Jenderal Pakpour Ancam AS dan Israel Usai Gelombang Unjuk Rasa di Iran
Simetrisnews – Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour, memperingatkan Israel dan Amerika Serikat (AS) agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan” setelah unjuk rasa besar-besaran melanda negara tersebut.
Pakpour mengatakan bahwa pasukan IRGC telah menempatkan “jari di pelatuk”, yang mengindikasikan kesiapan tinggi.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali membuka opsi aksi militer baru terhadap Iran, setelah Washington mendukung dan bergabung dalam perang 12 hari antara Teheran dan Tel Aviv pada Juni tahun lalu.
Unjuk rasa selama dua pekan yang dimulai pada akhir Desember lalu, mengguncang kepemimpinan ulama di bawah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tetapi aksi protes itu telah mereda di tengah penindakan, yang menurut para aktivis, telah menyebabkan ribuan orang tewas.
Pakpour, seperti dilansir AFP, Jumat (23/1/2026), memperingatkan Israel dan AS “untuk menghindari kesalahan perhitungan apa pun, dengan belajar dari pengalaman sejarah dan apa yang mereka pelajari dalam perang 12 hari yang dipaksakan, sehingga mereka tidak menghadapi nasib lebih menyakitkan dan disesalkan”.
“Korps Garda Revolusi Islam dan Iran tercinta telah menempatkan jari mereka di pelatuk, lebih siap dari sebelumnya, siap melaksanakan perintah dan tindakan panglima tertinggi — seorang pemimpin yang lebih mereka cintai daripada nyawa mereka sendiri,” kata Pakpour, merujuk pada Khamenei.
Pernyataan Pakpour tersebut disampaikan secara tertulis dan dikutip oleh televisi pemerintah Iran dalam rangka memperingati hari nasional untuk merayakan IRGC, pasukan yang misinya melindungi revolusi Islam tahun 1979 dari ancaman internal dan eksternal.
Para aktivis menuduh IRGC memainkan peran utama dalam penindakan brutal terhadap para demonstran di Iran. IRGC telah dikenai sanksi sebagai entitas teroris oleh sejumlah negara, termasuk Australia, Kanada, dan AS.
Pakpour mengambil alih jabatan Komandan IRGC sejak tahun lalu, setelah pendahulunya, Hossein Salami, menjadi salah satu dari beberapa tokoh militer penting yang tewas dalam serangan Israel selama perang berkecamuk tahun lalu. Kematian ini mengungkapkan penetrasi intelijen Israel yang mendalami terhadap Iran.
Sementara itu, Presiden Israel Isaac Herzog saat berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan bahwa “masa depan rakyat Iran hanya dapat terwujud melalui perubahan rezim”. Herzog juga menyebut “rezim Ayatollah berada dalam situasi yang cukup rapuh”.















