Harga Tinggi Bikin Sulit Beli Rumah, Begini Solusi untuk Generasi Muda


Simetrisnews – Generasi Z (Gen Z) punya banyak tantangan dan pertimbangan dalam membeli rumah. Hal itu karena harga rumah yang terus naik dan penghasilan yang segitu-gitu saja. Gen Z perlu mempunyai strategi apakah lebih efektif memilih Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau mengontrak sementara sambil membangun karier.
Bagi Gen Z yang baru beberapa tahun bekerja dan punya penghasilan, juga belum tentu cukup untuk membeli rumah. Pengamat properti sekaligus Direktur PT Indatu Management, Ahmad Syarifudin, menjelaskan dengan Upah Minimal Provinsi (UMP) per bulan, total pendapatan tahunan masih jauh dari cukup untuk membeli rumah.

Tak hanya itu, kenaikan kebutuhan dasar untuk sandang, pangan, dan papan membuat kemampuan membeli rumah juga makin terbatas. Situasi ini memaksa Gen Z untuk memilih strategi hunian yang realistis.

Dengan kondisi ekonomi yang penuh tantangan, Gen Z harus lebih cermat dalam menentukan pilihan hunian. Penting untuk memahami masing-masing opsi, baik KPR maupun mengontrak, sehingga keputusan yang diambil tidak hanya sesuai kemampuan finansial, tetapi juga mendukung stabilitas hidup jangka panjang.

Kelebihan dan Kekurangan KPR
KPR bisa menjadi salah satu solusi bagi Gen Z yang sudah memiliki penghasilan lebih stabil ataupun double income. Menurut Ahmad, membeli rumah melalui KPR, membutuhkan perencanaan matang agar tidak membebani keuangan, terutama untuk generasi muda yang baru mulai bekerja.

“Kalau gajinya sudah 15 juta ke atas baru kita mikirin KPR. Itu saran saya. Jadi anak-anak muda sekarang juga bisa mempunyai double income,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).

Kelebihan KPR adalah kepemilikan properti jangka panjang dan potensi investasi. Gen Z bisa mempunyai hunian tanpa biaya sewa. Namun, kekurangannya adalah angsuran yang harus dibayar selama 15 hingga 20 tahun, cicilan bisa naik ataupun turun tergantung kondisi ekonomi, serta membutuhkan DP dan kesiapan finansial sejak awal.

“Angsuran itu berjalan selama 15-20 tahun. Karena itu harus didukung dengan stabilitas ekonomi dan cash flow,” katanya.

Kelebihan dan Kekurangan Ngontrak
Mengontrak atau menyewa hunian menjadi alternatif realistis bagi Gen Z yang penghasilannya belum mencukupi untuk membeli rumah. Menurut Ahmad, ngontrak bisa menjadi batu loncatan untuk menata keuangan sambil mengembangkan karier.

Kelebihan mengontrak adalah adanya fleksibilitas dan biaya awal yang relatif ringan. Selain itu, pengeluaran bulanan juga lebih mudah diprediksi.

Namun, kekurangannya adalah hunian bersifat sementara dan tidak menghasilkan aset jangka panjang. Harga sewa juga bisa naik kapan saja. Ahmad juga menekankan pentingnya kemudahan akses lokasi hunian sewaan.

“Jadi kalau penghasilan masih UMP. Saya jawab ngekos atau ngontrak (sewa) dulu. Tapi itu harus dekat kantor. Atau paling nggak dekat transportasi. Supaya tidak perlu beli kendaraan,” ucapnya.

Gen Z Menjadi Generasi yang Sulit Beli Rumah
Gen Z menunda kepemilikan rumah bukan karena tidak menginginkannya, melainkan lebih realistis terhadap kondisi ekonomi. Banyak dari kalangan Gen Z yang masih menginginkan fleksibilitas hidup dengan prioritas terhadap karir dan pengalaman.

Selain itu, inflasi dan meningkatnya kebutuhan hidup membuat alokasi dana untuk membeli rumah menjadi sulit. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen X dan Milenial yang mungkin sudah bisa mempunyai rumah.

Kondisi saat ini berbeda dibanding kondisi generasi sebelumnya, terutama terkait harga rumah dan kebutuhan sehari-hari. Ahmad menjelaskan biaya dan gaya hidup dahulu tidak sedahsyat sekarang.

Kondisi ini membuat alokasi 30 persen dari pendapatan untuk membeli rumah menjadi tidak realistis bagi banyak Gen Z, sehingga mereka harus menunda kepemilikan rumah dan menyesuaikan strategi keuangan.

Ahmad menjelaskan KPR lebih cocok bagi generasi muda yang sudah memiliki penghasilan stabil, double income, atau dukungan dari keluarga. Gen Z dengan kondisi ekonomi yang sudah mapan, bisa mulai berkomitmen panjang untuk KPR. Dengan itu, alokasi dana bisa dilakukan secara aman untuk angsuran rumah tanpa mengorbankan kebutuhan dasar.

Sebaliknya, Ahmad menyatakan menyewa hunian lebih tepat bagi Gen Z dengan karir yang masih dinamis. Gen Z dengan penghasilan minim per bulan dan belum memiliki double income, lebih cocok untuk menempati hunian sewaan.

“Kalau gajinya masih di bawah 15 juta. Saya rasa ngekos aja dulu. Dengan ngekos, bisa fokus pada pengembangan karier dan menabung untuk rumah masa depan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, pilihan tempat tinggal sebaiknya menyesuaikan kemampuan keuangan, tahap kehidupan, dan rencana masa depan setiap individu. Dengan begitu, keputusan hunian menjadi lebih realistis terhadap finansial dan berkelanjutan.

Daihatsu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup