Pakar UGM: Pemanasan Global 10 Tahun Terakhir Hampir Dua Kali Lipat, Dampak Cuaca Ekstrem Meningkat

Simetrisnews – Laju pemanasan global dalam satu dekade terakhir tercatat meningkat signifikan, hampir dua kali lipat dibanding periode 1970-an. Suhu Bumi kini naik sekitar 0,35 derajat Celcius, memicu intensitas cuaca ekstrem yang lebih tinggi.

Dr. Emilya Nurjani, pakar klimatologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa kenaikan suhu menyebabkan pencairan es di Kutub Utara dan meningkatnya volume air laut, berpotensi menurunkan ketinggian wilayah dataran rendah.

“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” ujar Emilya, Kamis (2/4/2026).

Peningkatan suhu global juga mendorong potensi bencana alam lainnya. Kenaikan suhu meningkatkan evaporasi, sehingga peluang hujan tinggi dan dapat menimbulkan genangan air, sementara musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, mengganggu sektor pertanian.

“Kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” jelas Emilya.

Menurut Emilya, aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil menjadi penyebab utama pemanasan global karena meningkatkan gas rumah kaca. Gas ini membuat radiasi matahari lebih banyak terserap oleh Bumi sehingga suhu meningkat.

Selain itu, peningkatan suhu memicu angin kencang yang berpotensi merusak lingkungan dan properti. Kondisi ini membuat masyarakat perlu antisipasi melalui berbagai upaya mitigasi, termasuk penyimpanan air hujan dan penggunaan air secara bijak.

“Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan,” pungkas Emilya.

Langkah antisipatif ini dinilai penting untuk menghadapi musim kemarau lebih panjang sekaligus mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem akibat pemanasan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup