Parlemen Iran Setujui Rencana Tarif Tol Kapal di Selat Hormuz, Dampaknya Bisa Guncang Pasar Energi Global

Simetrisnews – Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran menyetujui rencana penerapan bea masuk atau tarif tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur perairan paling vital bagi distribusi minyak dan gas dunia yang kini terdampak perang di Timur Tengah.

Persetujuan tersebut masih bersifat awal dan memerlukan pemungutan suara penuh di parlemen Iran sebelum dapat diberlakukan secara resmi sebagai undang-undang.

Laporan televisi pemerintah Iran, mengutip anggota komisi keamanan parlemen, menyebut rencana itu memuat aturan baru terkait tata kelola jalur strategis tersebut, termasuk skema “pengaturan keuangan dan sistem tarif tol dalam mata uang Rial”.

Artinya, kapal-kapal yang melintas akan diwajibkan membayar biaya transit menggunakan mata uang nasional Iran.
Selain itu, rancangan aturan tersebut juga memuat klausul penegasan kedaulatan Iran atas jalur perairan tersebut, termasuk pelarangan kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel untuk melintas.

Salah satu anggota Komisi Keamanan Nasional, Mojtaba Zaeri, menjelaskan bahwa RUU tersebut turut mencantumkan pembatasan akses bagi negara-negara yang bergabung dalam sanksi sepihak terhadap Iran.

Setelah lolos dari Komisi Keamanan Nasional, rancangan undang-undang ini masih harus melalui voting pleno parlemen Iran, sebelum dikaji oleh Dewan Wali Iran dan disahkan Presiden Iran menjadi undang-undang.

Kebijakan ini muncul di tengah eskalasi konflik kawasan yang memanas sejak serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Dampak konflik tersebut terasa langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia itu kini mengalami penurunan aktivitas drastis.

Data perusahaan intelijen maritim Kpler menunjukkan perlintasan di Selat Hormuz telah anjlok hingga sekitar 95 persen sejak perang dimulai, memicu gangguan rantai pasok global, lonjakan biaya pengiriman, serta tekanan kenaikan harga energi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup