Kinerja Tinggi, Kemiskinan Turun Jadi 6,78 Persen dan Pengangguran 6,66 Persen

Simetrisnews – Pemerintah Provinsi Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat kinerja pembangunan daerah yang tinggi sepanjang 2025 dengan skor 3,6672 berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri. Capaian ini berdampak langsung pada penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di Jawa Barat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, persentase penduduk miskin di Jawa Barat pada 2025 tercatat 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa. Angka tersebut turun dari 7,08 persen pada tahun sebelumnya.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menyebut berbagai intervensi telah dilakukan untuk menekan kemiskinan, mulai dari pengurangan kantong kemiskinan, penurunan beban pengeluaran, hingga peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Untuk mengurangi kantong kemiskinan, Pemprov Jabar melakukan pengawasan wilayah rawan pangan serta menyusun peta kerawanan dan ketahanan pangan.

Sementara untuk menekan beban pengeluaran, sepanjang 2025 digelar Gerakan Pangan Murah sebanyak 1.874 kali di 27 kabupaten/kota dan Operasi Pasar Bersubsidi agar masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.

“Pemda Provinsi Jawa Barat membiayai iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat miskin,” ujar Erwan, Selasa (31/3/2026).

Di sektor energi, Pemprov Jabar juga meningkatkan penyediaan jaringan listrik. Sebanyak 76.123 calon penerima sambungan listrik telah diidentifikasi di 1.367 desa/kelurahan.

Selain itu, peningkatan pendapatan dilakukan melalui pelatihan bagi pekerja migran Indonesia dan penyaluran bantuan modal usaha kepada 57 Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

“Kami juga menyalurkan bantuan modal usaha kepada kelompok usaha bersama (KUBE) sebanyak 57 KUBE untuk meningkatkan pendapatan fakir miskin,” ucapnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat pada 2025 turun menjadi 6,66 persen dari 6,75 persen pada 2024, atau melampaui target 6,99 persen berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional per November 2025.

Penurunan ini didorong peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (0,10 juta orang), pendidikan (0,05 juta orang), serta akomodasi dan makan minum (0,04 juta orang). Sementara sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan 0,04 juta orang.

Sektor dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar berasal dari reparasi dan perawatan mobil serta motor (22,44 persen), industri pengolahan (18,61 persen), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,43 persen).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup