Ini Penjelasan Psikolog Ketika Orang Suka Kepoin Rumah Orang lain di Medsos

Simetrisnews – Rumah kini bukan lagi ruang yang sepenuhnya privat. Di era media sosial, banyak orang justru dengan sengaja memperlihatkan isi rumah dan aktivitas keseharian mereka ke publik. Dari konten sederhana di dalam rumah, seseorang bisa meraih ribuan hingga jutaan pengikut.

Fenomena ini bahkan makin kuat ketika yang ditampilkan adalah rumah selebritas. Proses pembangunan, drama renovasi, hingga harga properti bisa menjadi konsumsi publik, meski penonton tidak pernah tinggal, diundang, atau terlibat sama sekali.

Baca Juga :

Lantas, mengapa kehidupan rumah tangga orang lain begitu menarik perhatian?
Dilansir dari House & Garden, psikolog klinis dan ahli perilaku manusia Sophie Mort atau yang dikenal sebagai Dr. Soph menjelaskan bahwa ketertarikan ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum teknologi berkembang pesat.

“Itu menarik bagi kita karena kita ingin membayangkan cara hidup yang berbeda, atau mendapatkan wawasan tentang pilihan orang-orang yang kita kagumi. Ini cara kita mengeksplorasi identitas, memahami norma sosial, dan mengukur kehidupan kita dibanding orang lain,” jelasnya.

Menurutnya, rumah adalah cerminan kepribadian, nilai, dan gaya hidup pemiliknya. Ketika seseorang mengagumi rumah orang lain, sebenarnya ia sedang memproyeksikan keinginan dan cita-cita pribadinya.

Misalnya, ketertarikan pada rumah dengan banyak tanaman, ruang luas, kamar terpisah untuk setiap anggota keluarga, atau dapur yang tertata rapi. Secara tidak sadar, seseorang membayangkan ruang tersebut sebagai miliknya.

Rasa kagum ini kerap berubah menjadi inspirasi, terutama ketika menemukan kesamaan selera dan nilai dengan pemilik rumah.

Namun sebaliknya, rasa tidak nyaman atau dorongan untuk menghakimi rumah orang lain juga bisa muncul. Rumah yang berantakan, bau tidak sedap, atau tata ruang yang dianggap buruk dapat memicu kecemasan pribadi dan kebutuhan untuk merasa “lebih baik”.

“Kemudian muncul rasa persaingan. Tiba-tiba terasa wajar mengkritik rumah orang lain hanya untuk meyakinkan diri bahwa pilihan kita lebih baik,” ujar Dr. Soph.

Fenomena ini berkaitan dengan teori perbandingan sosial, di mana manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan identitas diri.

Jika ditarik ke masa lalu, pada awal abad ke-20, orang hanya bisa melihat isi rumah orang lain melalui undangan langsung atau majalah sosial. Dari situlah muncul persepsi bahwa gaya rumah pedesaan Inggris adalah standar ideal, karena sering ditampilkan oleh kalangan elite.

Kini, dengan hadirnya Instagram, YouTube, hingga Google Maps, siapa pun bisa melihat rumah orang lain dengan sangat mudah. Bahkan dari satu foto, orang bisa menebak merek furnitur, harga barang, hingga kelas sosial pemiliknya.

“Dalam kasus kehidupan orang kaya, melihat bagaimana mereka hidup bisa menjadi bentuk pelarian atau cara merasakan kemewahan secara tidak langsung,” ungkapnya.

Pada akhirnya, rasa penasaran terhadap rumah dan kehidupan orang lain adalah hal yang wajar secara psikologis. Namun, bagaimana seseorang meresponsnya apakah menjadi inspirasi atau justru bahan perbandingan yang tidak sehat, bergantung pada kondisi emosional masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup