Rupiah Melemah Usai Peringatan MSCI, Analis Sebut Dipengaruhi Sentimen Pasar Modal

Simetrisnews – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan sejak Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan terkait transparansi pasar modal Indonesia. Saat peringatan tersebut dirilis pada Rabu (28/1/2026), rupiah tercatat berada di level Rp16.722 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (18/2/2026), nilai tukar rupiah cenderung terus melemah sejak peringatan MSCI. Dolar Amerika Serikat tercatat menguat dari kisaran Rp16.722 menjadi Rp16.837, atau naik sekitar 0,69 persen hingga 17 Februari 2026.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah sejalan dengan peringatan MSCI serta pemangkasan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik.

“Untuk kembali normal, pasar masih menunggu pencabutan pembekuan atau rebalancing MSCI dan dampak penurunan rating. Kemungkinan baru terjadi sekitar Mei, sehingga membuat rupiah bergerak fluktuatif,” ujar Ibrahim.

Ibrahim menambahkan pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut melemah. Berdasarkan data RTI Business, IHSG tercatat berada di level 8.212,27 atau turun 0,64 persen.

“IHSG ikut melemah meski tidak terlalu dalam. Ini menjadi indikasi rupiah pada Februari masih cenderung tertekan, bahkan berpotensi mendekati level Rp16.900 per dolar AS,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai IHSG masih berpotensi terkoreksi menjelang pertemuan Amerika Serikat dan Iran di Jenewa. Namun, menurutnya, dampak sentimen tersebut diperkirakan terbatas.

“Pergerakan IHSG akan dipengaruhi sentimen global jangka pendek, khususnya dinamika negosiasi nuklir AS–Iran. Jika tensi meningkat dan memicu lonjakan harga minyak, IHSG berpotensi terkoreksi terbatas,” ujarnya.

Meski demikian, Reydi menyebut reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menjadi faktor penopang IHSG.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan kinerja IHSG masih prospektif untuk jangka panjang, termasuk menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri.

“Secara rata-rata beberapa tahun terakhir, IHSG masih berada dalam tren positif. Pelemahan pada Februari dapat menjadi momentum untuk mencermati saham-saham dengan fundamental yang solid,” jelas Nafan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup