Penjualan Mobil Nasional 2025 Anjlok 7,2 Persen, Terendah Sejak Pandemi

Simetrisnews – Penjualan mobil nasional sepanjang 2025 tercatat berada di titik terendah sejak pandemi COVID-19, dengan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, secara tahunan (year on year), pasar otomotif Indonesia mengalami kontraksi hingga lebih dari tujuh persen.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, mengungkapkan bahwa penjualan mobil secara wholesales pada 2025 hanya mencapai sekitar 803 ribu unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan capaian 2024 yang masih berada di kisaran 865 ribu unit.

Menurut Jongkie, penurunan penjualan mobil di Indonesia terutama dipicu oleh melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, dinamika pasar juga dipengaruhi oleh masuknya banyak merek baru, khususnya kendaraan listrik, yang langsung bersaing di segmen harga terjangkau.

“Secara total, penjualan tahun lalu turun sekitar tujuh persen menjadi 803 ribu unit. Ini disebabkan daya beli yang menurun, meski di saat yang sama banyak merek baru masuk dan didominasi peluncuran mobil listrik dengan harga relatif terjangkau,” ujar Jongkie beberapa waktu lalu.

Meski demikian, Jongkie menyebut ada kabar positif pada akhir tahun. Penjualan mobil nasional pada Desember 2025 tercatat melonjak cukup tajam, didorong oleh berakhirnya insentif pajak kendaraan elektrifikasi dari pemerintah.

“Desember itu menjadi salah satu pendorong besar. Kenaikannya luar biasa karena masyarakat memanfaatkan momen terakhir sebelum insentif PPN 10 persen dihentikan. Kalau tidak ada dorongan itu, penurunan bisa lebih dari tujuh persen,” jelasnya.

Memasuki 2026, Gaikindo memasang target yang relatif moderat. Penjualan mobil nasional diproyeksikan mencapai 850 ribu unit atau tumbuh sekitar lima persen dibandingkan realisasi tahun lalu.
“Untuk 2026, kami proyeksikan sekitar 850 ribu unit. Naiknya sekitar lima persen dari 2025,” ungkap Jongkie.

Meski tetap optimistis, Gaikindo mengaku realistis melihat tantangan pasar otomotif ke depan. Jongkie menegaskan, kebijakan pemerintah terkait insentif harga akan sangat menentukan pergerakan penjualan mobil, mengingat kendaraan masih tergolong sebagai barang mewah bagi sebagian besar masyarakat.

“Kami optimis tapi tetap realistis. Faktor harga sangat dominan, apalagi mobil masih dianggap barang luxury. Tanpa insentif yang jelas, sulit berharap lonjakan besar dalam penjualan,” pungkasnya.

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup