Religi

Tanda-Tanda Amal Ibadah Diterima Allah SWT Menurut Ibnu Athaillah

Simetrisnews – Ibadah yang dilakukan umat Islam akan ditentukan dengan diterimanya segala kewajiban. Setiap hari, muslim menjalankan berbagai amalan ibadah, mulai dari sholat, dzikir, tilawah Al-Qur’an, puasa, hingga berbagai kebaikan lainnya. Semua ibadah tersebut dilakukan dengan harapan mendapatkan ridha Allah SWT serta pahala yang berlipat.
Namun, muncul pertanyaan penting dalam hati setiap hamba tentang apakah amalan yang selama ini kita lakukan benar-benar diterima?

Para ulama menjelaskan bahwa terdapat tanda-tanda yang menunjukkan diterimanya amal ibadah seorang hamba, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Athaillah. Mengetahui tanda-tanda tersebut penting agar kita dapat mengevaluasi diri sekaligus terus meningkatkan kualitas keikhlasan dan ketaatan dalam beribadah.

Tanda-tanda Amal Ibadah yang Diterima
Dijelaskan dalam buku Terjemah Syarah Al-Hikam al-Athaiyyah Jilid 2 oleh Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, menurut Syeikh Athaillah, terdapat tanda-tanda ketika amal ibadah seseorang itu diterima oleh Allah SWT.

Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal dapat terlihat dari buah yang dirasakan oleh seorang hamba sejak di dunia. Salah satu tandanya adalah ketika ibadah terasa nikmat, hati menjadi tenteram, dan jiwa merasakan kebahagiaan saat bermunajat kepada Allah SWT.

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ

Artinya: Bagi siapa yang takut pada keagungan Tuhannya disediakan dua surga. (QS: Ar Rahman: 46)

Dalam ayat tersebut, para ulama menjelaskan bahwa “dua surga” dapat dimaknai sebagai dua bentuk kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Surga pertama adalah kenikmatan di dunia berupa ketenteraman hati dan kelezatan dalam beribadah, sedangkan surga kedua adalah kenikmatan hakiki di akhirat berupa balasan surga yang abadi.

Dalam salat, tanda penerimaan terlihat ketika seseorang mampu menghadirkan kekhusyukan dan fokus penuh dalam munajatnya. Ia merasakan keagungan Allah sehingga hatinya tunduk dan dipenuhi rasa harap serta takut.

Salat yang diterima juga memberi pengaruh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menjadi lebih mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan terdorong untuk memperbaiki akhlaknya.

Selain itu, ia merasakan kerinduan untuk kembali menunaikan salat setelah selesai melaksanakannya. Ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan yang menenangkan jiwa.

Pada amalan dzikir, tanda diterimanya ibadah tampak ketika dzikir menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kehidupan. Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih berhati-hati dalam perkataan dan perbuatannya.

Dzikir yang diterima juga menghadirkan ketenteraman hati dalam menghadapi urusan dunia. Ia merasa lebih yakin terhadap rezeki yang telah Allah tetapkan dan tidak mudah gelisah.

Dalam ibadah haji, tanda penerimaan terlihat ketika hati terlepas dari keterikatan pada urusan dunia selama menjalankan manasik. Seluruh perhatian dan perasaan tertuju kepada Allah dengan penuh pengagungan dan ketundukan.

Pada tilawah Al-Qur’an, tanda diterimanya amal terlihat ketika seseorang merasakan seolah-olah ayat-ayat yang dibaca berbicara langsung kepadanya. Ia meresapi makna ayat dengan hati yang tersentuh dan terdorong untuk mengamalkannya.

Amal yang diterima juga tampak dari perubahan sikap seseorang menjadi lebih sabar, rendah hati, dan mudah berbuat kebaikan. Ia semakin senang membantu orang lain tanpa mengharapkan pujian.

Secara keseluruhan, tanda diterimanya amal ibadah adalah ketika ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam hati, perilaku, dan kehidupan sosial. Amal yang diterima menumbuhkan ketenangan batin sekaligus mendorong seseorang untuk terus meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT.

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup